Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2007

Picik dan Emosionalnya Oknum Mahasiswa ITB itu

Siang ini (24 Oktober 2007) sepulang kuliah Matematika Diskrit, gua lagi jalan berdua ke arah parkir barat dari Lab Radar bareng temen gua, Ari. Hujan tiba-tiba menitik dengan cukup deras sehingga gua dan Ari secara spontan memilih untuk berjalan di koridor gedung Fisika di sisi kiri yang beratap untuk menghindari hujan. Kami lalu berjalan sambil mengobrol di sepanjang koridor tersebut.

Baru beberapa meter berjalan di koridor tersebut, kami melihat seorang mahasiswa dan mahasiswi sedang duduk lesehan di sisi koridor yang bentuknya melebar karena lebih menjorok ke dalam dibandingkan sisi koridor yang lain. Secara sekilas terlihat wajah si cewek sembab dan matanya merah sehingga gua simpulkan bahwa ia sedang menangis. Si cowok berada di sampingnya. Gua sama sekali ga ambil peduli tentang mereka, begitu pun Ari – kami sama sekali tidak mau ambil pusing.

Kami terus saja berjalan. Lalu, terlihat sebuah ponsel tergeletak di tengah-tengah koridor di hadapan kami. Secara spontan gua ngomong ke Ari,” Eh, ini HP siapa nih?”. Gua ngerasa heran, kok ada HP tergeletak di tengah jalan gini. Gua tahu sepertinya HP itu milik salah seorang dari pasangan yang sedang gundah di sisi kiri gua. Akhirnya kami melangkahi HP tersebut.

Saat itu juga, terdengar bentakan keras dari sisi kiri kami, ”Woi!!! Itu HP gua!!! Mau apa loe?!!!”. Ternyata bentakan itu diteriakkan oleh si cowok. Cowok itu lalu menatap gua dengan tajam melalui celah sepanjang satu meter antara dinding gedung dengan tiang penyangga gedung. Jarak kami sekitar tiga meter.

Gua sontak berhenti berjalan dan menengok ke arah dia. Lalu, gua–yang gak terima dibentak-bentak kayak gitu tanpa sebab–bales teriak, ”Gua cuman nanya aja!! Mau apa loe?!”. Gua dan cowok itu saling memelototi dari tempat masing-masing. Tapi, Ari segera menarik gua untuk segera pergi saja. Emosi gua (sayangnya) gak terpancing karena sampai beberapa detik yang lalu gua masih dalam kondisi good mood sehingga gua mau saja diajak pergi oleh Ari. Kami melangkah dari sana. Gua dan cowok temperamental itu kehilangan kontak mata karena terhalang oleh tembok.

Tapi, tiba-tiba cowok temperamental itu berteriak (lagi), ”Woi!!! Mau ke mana loe?! Gua anak S*P*L!!! Ini wilayah gua! Loe jangan macem-macem di sini!!!”. Gua berhenti berjalan dan menatap dia yang sedang berjalan ke arah gua. Gua diam sambil menatap dia, karena emosi gua entah kenapa tetap stabil–nggak terpancing kemarahan tidak berdasar cowok temperamen tersebut. Cowok tersebut terus mendekati gua sambil mengambil ancang-ancang untuk memukul. Dia ngomong, ”Loe mau gua tanganin ya?!”. Tapi, Ari segera memisahkan kami. Gua pun ditarik pergi oleh Ari. Namun gua sempat berkata, ”Kita ini orang intelektual mas. Jangan dikit-dikit main fisik donk!”.

Gua gak mau meladeni dia. Walaupun gua pemegang sabuk biru karate dan fisik gua selama ini lumayan karena aktif di organisasi pecinta alam kampus, gua gak mau bermain fisik. Gua sadar, berkelahi di kampus adalah pelanggaran berat dengan sangsi Drop-Out alias DO. Selain itu, main fisik juga sama sekali gak mencerminkan jiwa intelektualitas yang seharusnya dimiliki para mahasiswa, ITB lagi – yang katanya putra-putri terbaik bangsa. Jadi sebagai mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, yang merupakan fakultas terpandang di ITB, gua sadar berkelahi di kampus adalah tindakan yang paling bego yang dapat dilakukan mahasiswa. Apalagi kalau berkelahi TANPA ALASAN YANG JELAS. Walaupun ditantang untuk berkelahi, jangan pernah kepancing. Baru kalo kepaksa, silakan ladeni untuk menjaga harga diri. Walaupun tetap saja bermain fisik adalah tindakan picik yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berpandangan sempit.

Sayang, cowok picik di hadapan gua gak ngerti hal itu. Lagipula, dia hanya berani menantang dari ’wilayahnya sendiri’. Belum tentu dia berani kalau bukan di ’wilayah dia’. Kata-katanya yang: ”Gua anak S*P*L!!! Ini wilayah gua! Loe jangan macem-macem di sini!!” adalah kata-kata orang picik. Emangnya gedung jurusan dia dan daerah2 sekitarnya milik anak2 s*p*l doang? ITB itu kan kampus terbuka, bahkan orang luar pun bebas berkeliaran di seluruh wilayah ITB yang diperuntukkan buat umum.

Gua pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Waktu sma, gua pernah dapet masalah karena senggolan motor dengan salah seseorang yang ngga gua kenal. Dia melontarkan ucapan yang bermakna sama (dengan bahasa Sunda), ”Ieu wilayah aing. Babaturan urang loba di dieu. Sia tong macem-macem di dieu.” Ini adalah kata-kata yang hanya dilontarkan orang-orang picik. Tapi waktu itu gua maklum, karena gua tahu dia bukan orang terpelajar, paling-paling dia lulusan sma yang gak bermutu. Tapi kali ini dilontarkan mahasiswa ITB, men! Tanpa alasan yang jelas lagi!

Btw, gua pengen tau apa sih yang nyinggung perasaannya? Gua cuma ngomong spontan tentang HP yang tergeletak di tengah jalan. Gua kasian aja ama pemilik HP itu klo2 terinjak orang dan hancur. No others!

Mungkin ada yang gak beres tentang hubungan si cowok tersebut dengan cewek yang menangis di sebelahnya tadi. Barangkali cowok itu diputusin si cewek, ato si cewek hamil di luar nikah dan minta pertanggungjawaban si cowok – gua gak mau tahu. Tapi seberat apa pun masalah loe, jangan membuat masalah lain yang malah bisa menambah rumit kehidupan loe. Apalagi masalah yang sama sekali tidak beralasan dan dibuat-buat. Dia harusnya terima kasih ke gua. Klo gua tadi melayani dia, kita berdua bisa babak belur dan sama-sama DO dari kampus. Kita berdua bahkan bisa ditahan di sel kepolisian. Apa dia gak sadar akan hal tersebut?

Dewasa lah dikit... Kendaliin emosi loe. Tapi gua maklum kok. Emang banyak orang yang dewasa secara fisik, namun belum dewasa secara mental.

Banyak orang yang tidak cukup cerdas untuk mengendalikan emosinya.

Tambahan juga, banyak anak ITB yang terperangkap dalam aroganisme jurusan, yang sebenarnya gak penting. Kayaknya calon tukang kuli bangunan dan calon koruptor proyek pembangunan itu (masih calon, karena belum tentu dia lulus) juga terperangkap dalam arogansi jurusan tersebut. Udah lah lupakan saja hal gak penting itu, gimana Indonesia mau maju kalau dalam tingkat kampus saja mahasiswanya gak merasa ’satu’.

Syukurlah emosi gua ngga terpancing. Setelah insiden itu pun, gua gak merasa terjadi apa-apa. Enjoy aja! Tapi sebenernya gua pengen tahu masalah apa gerangan yang sedang terjadi dengan sepasang anak manusia tadi. Barangkali gua bisa bantu buat memecahkan masalah mereka. Sebenernya akan lebih baik jika loe ajak gua dan Ari untuk sharing masalah loe ke kita, daripada loe malah menambah rumit hidup loe dengan marah-marah dan menantang berkelahi.

Pesan gue buat tuh anak: kendaliin emosi yang meledak-ledak. Serumit apa pun masalah yang sedang membelit, dinginkan pikiran. Jangan melampiaskan emosi loe ke orang lain yang tidak bersalah. Dewasalah. Gunakan akal, logika, dan pikiran loe untuk berpikir tentang akibat dan efek lanjut dari setiap tindakan kita. Kita sama2 cowok, yang didesain untuk lebih menggunakan logika dan pikiran daripada emosi dan perasaan.

Oke, sekian aja sharing pengalaman dari gua. Moga-moga ada yang bisa diambil hikmahnya dari insiden ini. Ada yang mau komentar? Silakan!

Kamis, 30 Agustus 2007

Koleksi Nama Terkutuk

Kmaren pas gw lagi di parkiran SR, gw ketemu dengan temen sekelas gw waktu di sma dulu. Awalnya gw nggak mengenali dia, karena waktu itu helm motornya sedang menyelimuti hampir keseluruhan mukanya. Gw malah sempet ngerasa tersinggung karena ada orang yang ngeliatin gw trus, kayak ngajak berantem gitu... Eh ternyata yg ngeliatin gw itu temen sekelas sma. Untung aja kek gitu, kalo nggak.... (u kow lah – i’ll not mention it)

Tuh anak emang sekelas dengan gw dulu pas sma, tapi dia baru masuk itb tahun ini (2007), tepatnya sih di SITH (stand for School of Life Science and Technology – btw kok kepanjangannya gak nyambung yak – it’s ok, just don’t think about it).

Gw sempet kaget waktu ketemu dia, bukan karena mukanya yg tambah kusut (piss), tapi karena dia manggil gw dengan salah satu panggilan iseng yg dinobatkan temen2 untuk gw semasa di sma dulu. Udah lama gw nggak dipanggil dengan nama2 terkutuk itu. Makanya gw rada ’shock’.

Sebenarnya gw sangat sering dijejali panggilan2 aneh semasa sekolah dulu. Waktu di SD pun, gw udah punya ’nama kesayangan’ dari temen2, tapi gw lupa mereka nyebut gw apa (fiuuhhhhh....). Trus waktu kelas 2 smp, gw punya temen2 se-gang di kelas (anggota gang ini paling banyak di kelas gw dulu, sekitar 10 orang) yang manggil gw dengan sebutan terkutuk : ’Jahem’. Gw sendiri gak tau dari mana asal sebutan terkutuk itu, tapi rupa2nya temen sebangku gw (yg punya nama julukan sendiri, yaitu ’Sadut’) yang pertama kali menjuluki gw dgn sebutan itu. Asat-usut, nama itu ternyata berasal dari kebiasaan gw yg klo ngasih ’kode’ untuk nyontek waktu ujian (uupssss...) dengan mendehem. Deheman itu kan suaranya ’ehemm’, jadinya si Sadut itu memelesetkan nama gw menjadi ’Jahem’ (gak nyambung yah?). Jadilah temen2 gw yg lain pun manggil gw seperti itu...

Koleksi panggilan terkutuk itu bertambah waktu di kelas 3 smp. Kebetulan kebanyakan temen2 gw pas kelas 2 smp udah tersebar ke kelas yang berbeda-beda. Jadi nama ’Jahem’ udah gak begitu eksis lagi. Tapi emang udah nasib kale, ada aja yg manggil gw dengan sebutan terkutuk lainnya. Guru Matematika gw waktu itu, demi kerahasiaan, kita sebut aja dengan nama ’P Sugih’ (eh ini mah emang nama dia sebenernya – ah dasar gu*bl*k gw) lah sang pencetusnya. Nih guru emang gaul dan gokil, tipe2 guru inspiratif (tararengkyu pak, bapaklah yg memberi gw esensi ttg ’matematika’, & bapaklah yg mendobrak gaya belajar guru tradisional yg monoton dan membosankan). P Sugih emang berkarakter ’interaktif’ dgn murid-muridnya: seneng bikin gosip2 ’asmara’ antara murid yg satu dengan yg lainnya & seneng ngejodoh-jodohin murid2nya (gw juga termasuk korbannya), seneng manggil anak2 muridnya dengan sebutan2 yg ’spontan’, seneng ngegodain, seneng nyuruh2 ke depan, sering ngasih duit klo bisa ngerjain soal ke depan :-P, dll. Nah suatu saat, beliau inilah yg mencetuskan ’nama kesayangan’ itu waktu dia mau nyuruh gw ke depan kelas. Sejarahnya gini: karena beliau (might be) lupa dengan nama gw, plus nama gw emang rada2 ribet & rada kebarat-baratan (ah kate siape lu..?!), akhirnya dia asal ngomong aja dengan manggil gw dgn sebutan: ’Jacob! Maju ke depan!’. Setelah tawa temen2 sekelas usai, dinobatkanlah salah satu nama terkutuk lagi ke dalam koleksi gw.

Setelah masuk sma, kesialan gw masih berlanjut. Dimulai pas gw di kelas satu sma. Waktu itu – maklum masih masa puber – gw n temen2 sekelas gw ’kadang-kadang’ suka ngobrol tentang – yah sebut aja ’sex education’. Akibat obrolan2 santai itu, ditambah dengan muka gw yg kata salah satu (inget loh, cuma salah satu!) dari para gila itu bertipe muka ’mes*m’, gw dijejali dengan nama2 terkutuk (lagi?!), such as: Tjabul, Bang Col, Bang Cil, dan sejenisnya. Dan sialnya, lagi2 nama panggilan itu melekat pada diri gw (Huuhhhh...!!!! Terkutuklah kalean smua...!!!!!). Kadang2 nama2 itu sering disingkat jadi ’Col’, ’Bul’, ato ’Cil’.

Oh ya, ada lagi nih! Klo ini awalnya karena budaya sesat temen2 sma gw yg asalnya dari smp 5 bandung. Waktu smp, mereka sering menyebut nama dengan nama bokap mereka masing2. Contoh (ini yg paling gw inget), temen gw Nicko dipanggil dgn sebutan ’Gundarto’ – karena bokapnya bernama Gundarto. Sadis kan? Dan jadilah gw pun disebut dengan nama asli bokap gw: Ali Amiruddin. Dan karena nama bokap gw terdiri dari 3 suku kata, yaitu Ali, Amir, dan Udin; 3 kata ini lah yg sering dipake orang2 autis itu buat menyeru gw (walaupun yang paling ngetop ya nama depannya – Ali).

Sudahkah berhenti pada kelas 1 sma? Ohhhh..... Ternyata tidak! Di kelas 2, nama ’Tjaboel’ jadi semakin populer. Bahkan diplesetin menjadi ’Tjaboe’ – yang bahkan jadi nama ’trade mark’ bagi komunitas anak2 kelas 2D V-06. Dan koleksi nista itu pun masih ber-reproduksi. Kali ini menetaskan nama baru: ’Tuling’. Kata ini merupakan bahasa dari kampung bokap gw – Muaradua (ayo ada yang tahu gak ini di mana...?), yang artinya salah satu onderdil. (Emang parah temen2 gw dulu.... Hiks...).

Di kelas 3 sma, temen gw waktu di kelas 2 dulu mewariskan nama ’Tuling’ itu ke bekas temen2 segang nya dulu waktu di kelas 1 sma (dan mereka jadi temen sekelas gw pas kelas 3 sma). Akibatnya, heuh! (u know what happened later). Dan nama inilah yang dipakai oleh temen SITH gw untuk memanggil gw waktu ketemu di parkiran SR kmaren.

Tapi akhirnya berakhirlah penderitaan gw setelah kuliah ini – atau malah BELUM?! Ternyata jawabnya : BELUM. Dasar emang garis hidup gw kale, di kuliah pun – tepatnya di unit kegiatan mahasiswa yg bodor tea, alias di KMPA, gw teteup punya ’nama kesayangan’ yaitu ’Beruang’ atau diterjemahkan menjadi ’Pooh’. Dan kayaknya, nama ini bakal langgeng menghiasi koleksi panggilan-panggilan ’terkutuk’ milik gw... Hiks...

– Btw, did you ever have ’god-damned’ names too? –

– Please visit KMPA Ganesha ITB blog : http://kmpaganeshaitb.blogspot.com –

Sabtu, 30 Juni 2007

Kendaraan Mahasiswa Gak Boleh Masuk Kampus...??!!

Dasar Joko Sia*an!!! Kesel gw.. Gara-gara kampus itb masang sistem kartu pintar untuk arus kendaraan keluar-masuk kampus, jadinya semua kendaraan yang gak punya tuh kartu gak boleh masuk ke area kampus (kecuali area parkir umum yang emang diperuntukkan untuk mahasiswa dan umum). Udah gitu area parkir umum yang di utara (perpus) dan barat (sipil) hanya dibuka dari jam 6 pagi ampe jam 6 sore, trus area parkir timur (SR) dibuka dari jam 6pagi ampe jam 10 malem aja. Di luar itu, kepaksa deh motor elo terkurung di dalem area parker ampe pagi besoknya.

Bete kan? Apalagi (mungkin) buat para aktivis kampus ato anak tingkat akhir yang sering ada di kampus dari pagi ampe malem. Ngerepotin banget klo kita harus ngeluarin motor dulu setiap jam6 sore menjelang trus naruh motor di luar kampus yang keamanannya amat sangat tidak terjamin. Bayangkan pren... Di LUAR KAMPUS!!! Tanpa ada petugas yang menjaga, tanpa ada batas parkir yang jelas, remang-remang - tanpa ada penerangan yg memadai, di mana para curanmor dgn leluasa mengintai. Belum lagi sering ada tukang parkir gak jelas yg tiba2 muncul pas kita mau ngeluarin kendaraan kita, berharap dapet 500 perak cuman dengan sok2 ngbantu kita ngeluarin kendaraan.

Kendaraan tanpa stiker dan kartu pintar sama sekali nggak boleh masuk ke area dalam kampus. Itu gara-gara Mas Joko yang sok-sok masang kartu pintar 'nan canggih' bwt sistem keamanan arus kendaraan keluar-masuk kampus. Padahal menurut gw itu cuman strategi rektor untuk memberi citra baik ke pihak-pihak luar mengingat itb saat ini lagi sibuk-sibuknya menerima mahasiswa baru via usm (dan spmb).

Padahal selama ini pelayanan UPT perparkiran di itb sama sekali tidak memuaskan. Bayangin, masa kita sebagai MAHASISWA itb sendiri harus membayar 500 perak (untuk sepeda motor) setiap kali masuk ke area perparkiran umum, walaupun misalnya kita cuman ninggalin kampus barang semenit buat fotokopi contekan praktikum di tamansari. Coba kita hitung, misal kita pengguna sepeda motor,klo kita keluar-masuk itb 2 kali dalam sehari untuk berbagai keperluan (misal ke kost temen, ke sabuga, pulang, fotokopi de el el), kita harus ngeluarin 1000 perak sehari, dan apabila diintegrasi kita harus ngeluarin duit sebanyak 1000x28=28000 dalam sebulan. Artinya minimal (klo lulus cepet) kita harus ngeluarin duit 28000x12x4=1344000 selama kita jadi mahasiswa itb. Jumlah segitu kira2 equiavalen dengan 1/10 biaya kuliah kita di itb.

Kita sebagai mahasiswa itb nampaknya belum menjadi tuan di kampusnya sendiri. Rektor lah raja diraja itb yang bisa ngatur segalanya tanpa memikirkan nasib mahasiswanya yang kebanyakan anak-anak kost dari dusun-dusun terpencil se-Indonesia. Pak rektor, harusnya kalau anda ingin 'memberi pelajaran' kpd mahasiswa anda, tindaslah mahasiswa2 hedon yang semakin merajalela di itb.

Tapi percuma hanya berkeluh-kesah tanpa memberi solusi win-to-win. Jadi mungkin apabila pak rektor atau siapa pun pejabat itb yang sempet mampir ke blog sy, tolong pertimbangkan aspirasi dan solusi kami selaku mahasiswa yang bener-bener tau dan mengalami sendiri hal tersebut. Solusi dari gw yaitu :

1. Tolong buat kartu langganan parkir untuk mahasiswa itb. Oke kami akan tetep bayar utk dapetkan kartu itu, tapi tentu aja dengan harga sewajarnya. Sistem pembayarannya mungkin dalam jangka waktu per bulan. Kami selama ini merasa diperlakukan sama dengan orang luar yang singgah ke kampus itb. Padahal mobilitas kami dari kost/rumah ke kampus cukup tinggi. Apabila kami harus bayar karcis masuk setiap ke kampus, kasihan kami para mahasiswa kere ini.

2. Lagi Dipikirin :p

Jumat, 29 Juni 2007

Untung Gak Sidang Advokasi...

Kmaren n hari ini ada sidang advokasi utk temen2 2006 yg bermasalah dgn nilai selama kaderisasi STEI. Sidang ini bwt mutusin apakah temen2 seangkatan gw ini layak masuk HME / HMIF ato nggak. Tapi tentu aja temen2 stei angkatan 2006 yang laen juga seharusnya dateng sidang untuk ngajuin pembelaan bwt temen2 yg bermasalah itu.

Buset deh..! Untung gw gak usah ikut sidang advokasi itu. Gw bisa terdesak oleh prtanyaan seniro-seniro itu... Apalagi klo mw ngomongin kontribusi gw selama ini buat angkatan. Gw akui, gw emang tidak begitu berkontribusi bwt angkatan stei 2006. Mulai dari awal pas tugas ngbuat nametag, buku angkatan, foto angkatan; ampe tugas akhir angkatan semacem baligo supergede logo HME dan HMIF, denah jaringan listrik labtek, denah tempat kos anak2 stei2006, buku terjemahan puluhan bab, de el el. Paling2 gw ikut partisipasi tugas angkatan cuma pas tugas bakti sosial ke Cilimus, Batujajar, deket TPA Leuwigajah. Itupun cuma "nge-junk" doank... paling2 bantu nge-cat bangunan SD aja plus kerjaan2 sepela lainnya. Gak bisa disamain lah dengan kerjaan Sakur (ketua angkatan stei 2006) ato Andri (ketua acara bakti sosial)
Selebihnya... (Udah lah, gak s\usah nanya! )

Tapi bukan berarti gw gak berkontibusi karena gw males ato alasan2 gak bertanggung jawab laennya. Saat liburan semester kayak itu, tentu aja bukan cuma kaderisasi himpunan yg manfaatin waktu kosong kayak gitu. Unit2 yg laen juga kagak mau ketinggalan. Banyak banget unit n kepanitiaan yang ngadain kegiatan pas hari libur kayak gitu. Apalagi KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) divisi GH (Gunung Hutan).
Selama bulan juni aja, gw dua kali harus ikut ke lapangan (seharusnya malah 3 kali). Pertama, awal Juni itu kita latihan navigasi selama 4 hari dgn rute Cikole-Bukit Tunggul (tapi gagal karena kesalahan navigasi). Trus navigasi darat lagi dari Bukit Tunggul - Ciruang Badak (lagi2 kesalahan yg sama... Maklum masih pemula kakak..) Selain itu ARC (Amateur Radio Club) juga ada tugas besar yang harus dipresentasiin di depan kru2 ARC. Tugas nya itu pun cukup ngbuat kami2 semua pusing, pusing, pusing... (Peggy mode on)

But, anyway gw bakal membalas semua kesalahan gw bwt angkatan nanti pas udah masuk himpunan (HME). Sekarang lets prepare for: PENUTUPAN KADERISASI! Yeah, penutupan tgl 1 Juli. Kita buktikan bahwa kaderisasi selama ini gak sia-sia!!


STEI - Sekolah Teknik Elektro Itebe


ELEKTRO, We Can Fight!